Panduan Menghadapi Anak Tantrum Karena Gadget Berdasarkan Saran Psikolog

Kamis, 02 April 2026 | 09:31:35 WIB
Panduan Menghadapi Anak Tantrum Karena Gadget Berdasarkan Saran Psikolog

JAKARTA - Dalam kehidupan sehari-hari, momen ketika anak harus berhenti bermain gadget sering kali berubah menjadi situasi yang menegangkan. 

Tangisan, teriakan, hingga sikap menolak berkomunikasi menjadi reaksi yang tidak jarang muncul. Kondisi ini kerap membuat orangtua bingung, bahkan merasa bersalah atau kehilangan kendali. Padahal, perilaku tersebut bukan sekadar bentuk pembangkangan, melainkan bagian dari respons emosional anak yang belum matang.

Psikolog Eka Renny Yustisia menjelaskan, paparan media sosial dan konten digital secara terus-menerus membuat otak anak terbiasa dengan lonjakan cepat hormon kesenangan atau dopamin. 

Ketika akses terhadap gadget dihentikan secara mendadak, anak dapat mengalami reaksi emosional yang kuat. Dari sudut pandang ini, penting bagi orangtua untuk memahami bahwa tantrum bukanlah masalah disiplin semata, melainkan juga berkaitan dengan cara kerja otak anak.

Mengapa Anak Bisa Tantrum saat Gadget Diambil?

Menurut Eka, penggunaan gadget yang terlalu sering dapat menciptakan pola stimulasi tinggi pada otak anak. Video pendek, permainan interaktif, hingga media sosial memberi sensasi cepat yang membuat anak terus ingin mengulang pengalaman tersebut. Sensasi ini membuat anak merasa nyaman dan sulit melepaskan diri.

Ketika aktivitas itu dihentikan tiba-tiba, anak dapat mengalami kondisi yang menyerupai gejala withdrawal atau putus dari kebiasaan menyenangkan. Reaksinya bisa berupa marah, menangis, sulit tenang, hingga menolak berkomunikasi. 

Dalam situasi seperti ini, tantrum bukan semata-mata bentuk pembangkangan, tetapi juga respons emosional karena anak belum mampu mengelola rasa kecewa dan frustrasi.

Validasi Emosi Anak Tanpa Membenarkan Perilaku

Salah satu langkah yang disarankan psikolog adalah memvalidasi emosi anak. "Kami menyarankan orang tua untuk memvalidasi emosi anak tanpa membenarkan perilaku. Orang tua perlu menunjukkan empati dengan memahami perasaan anak agar sistem emosinya perlahan menjadi lebih tenang," ujarnya.

Orangtua perlu menunjukkan bahwa perasaan anak dipahami, tanpa harus membenarkan perilaku marah berlebihan. Misalnya, orangtua bisa mengatakan, “Ibu tahu kamu masih ingin bermain dan merasa kesal karena harus berhenti.” Kalimat sederhana seperti ini membantu anak merasa didengar sehingga emosinya perlahan menurun.

Setelah anak lebih tenang, orang tua baru dapat menjelaskan alasan mengapa waktu bermain gadget harus dibatasi. Pendekatan ini penting karena anak cenderung lebih sulit menerima aturan ketika sedang berada dalam puncak emosi.

Gunakan Teknik Transisi Sebelum Waktu Bermain Berakhir

Mengambil gadget secara tiba-tiba sering memicu penolakan lebih besar. Karena itu, orangtua disarankan memberi tanda atau batas waktu sebelum aktivitas digital selesai. "Selain itu orang tua disarankan menerapkan teknik transisi dengan memberikan batas waktu secara bertahap sebelum anak berhenti menggunakan gawai," kata dia.

Contohnya, beri pemberitahuan lima hingga sepuluh menit sebelumnya bahwa waktu bermain akan segera berakhir. Cara ini membantu anak menyiapkan diri secara mental. Dengan adanya jeda, anak tidak merasa kehilangan secara mendadak.

Teknik transisi juga bisa dilakukan dengan membuat rutinitas, misalnya setelah menonton satu video atau menyelesaikan satu permainan, anak harus berhenti dan beralih ke aktivitas lain. Konsistensi dalam pola ini membuat anak lebih mudah memahami aturan.

Terapkan Detoks Digital dalam Keluarga

Psikolog juga menekankan pentingnya aturan detoks digital yang berlaku untuk seluruh anggota keluarga. Anak akan lebih mudah menerima pembatasan jika melihat orang tua juga menjalankan aturan yang sama.

Misalnya, tidak menggunakan gadget saat makan bersama, sebelum tidur, atau pada jam tertentu di rumah. Keteladanan menjadi kunci karena anak belajar dari kebiasaan yang mereka lihat setiap hari. Jika orangtua konsisten, anak akan lebih mudah mengikuti aturan tanpa merasa diperlakukan tidak adil.

Selain itu, detoks digital juga membantu menciptakan kualitas interaksi yang lebih baik dalam keluarga. Anak tidak hanya belajar mengurangi ketergantungan pada layar, tetapi juga membangun hubungan emosional yang lebih kuat dengan orangtua.

Ganti dengan Aktivitas Fisik atau Permainan Interaktif

Agar anak tidak terus bergantung pada layar, orang tua perlu menawarkan kegiatan pengganti yang menarik. Aktivitas fisik seperti bersepeda, bermain bola, menggambar, atau olahraga ringan dapat membantu menyeimbangkan emosi anak.

Beberapa orang tua juga memilih kegiatan seperti panahan karena melatih fokus, kesabaran, dan koordinasi tubuh. Selain itu, permainan interaktif bersama keluarga memberi stimulasi sosial yang membantu anak merasa tetap terhibur tanpa gadget.

Kegiatan bersama juga memberikan kesempatan bagi anak untuk menyalurkan energi dan emosi secara sehat. Dengan begitu, kebutuhan hiburan anak tetap terpenuhi tanpa harus bergantung pada perangkat digital.

Awasi Konten yang Dikonsumsi Anak

Bukan hanya durasi penggunaan gadget yang penting diperhatikan, tetapi juga jenis kontennya. Konten dengan stimulasi sangat cepat dan berganti dalam hitungan detik dapat membuat anak semakin sulit lepas dari layar.

Karena itu, orangtua perlu memilih konten yang sesuai usia dan tidak berlebihan dalam memberikan rangsangan visual maupun audio. Konten yang lebih tenang dan edukatif dapat membantu anak menikmati pengalaman digital tanpa terlalu memicu ketergantungan.

Dengan pendekatan yang tepat, anak tetap bisa mengenal teknologi tanpa kehilangan kemampuan mengelola emosi dan menikmati aktivitas di dunia nyata. 

Orangtua pun tidak perlu lagi merasa kewalahan menghadapi tantrum, karena mereka memahami bahwa di balik reaksi tersebut ada proses belajar yang sedang berlangsung dalam diri anak.

Terkini